Gowes Blusukan ke Museum Soeharto

Gowes sambil belajar sejarah mengenang tentang perjuangan Presiden Ke 2 Indonesia, Soeharto dengan mengunjungi Museum Soeharto.
Berpose di tembok memorial Pak Harto

Berpose di tembok memorial Pak Harto

Berpose di tembok memorial Pak Harto
Mulut Goa Payaman
Makam Keramat yang berada di samping kanan atas Goa
Udah sampai Plakat Goa Payaman.
Pendopo dan Patung Pak Harto
Pintu Gerbang Masuk Museum

Fajar menjelang saya sudah bersiap-siap sholat Subuh sekaligus siap-siap agenda rutin bersama Goweser Godean City untuk menjelajah kota Yogyakarta. Kali ini saya bersama 5 goweser berencana menuju ke daerah selatan Godean perbatasan Kabupaten Bantul tepatnya di Desa Kemusuk Bantul. Desa tempat kelahiran Jenderal Besar HM Soeharto.

Siapa sih yang tak kenal dengan beliau, menjadi Presiden RI dan menguasai Indonesia selama 32 tahun lamanya.  Saat ini masih dikenang lewat guyonan "Piye Kabare Le?Penak Jamanku to?". Nah, di meseum Soeharto ini, mari kita kenang perjuangan beliau.

Usai Sholat Subuh Kami Kumpul di serambi Masjid. Sekitar pukul 05.15 baru pada nongol ni batang giginya.hhihii. Kami antusias sekali menuju destinasi sejarah wisata baru yaitu MUSEUM SOEHARTO.

Perjalanan dimulai pukul 05.30, dalam Perjalanan ada obrolan seputar Museum dan ternyata lokasinya deket dengan tempat tinggal kami. Dari situ kami berpikir nanti sampai sana jangan-jangan belom buka. Yaahhhh. Rencana berubah sedikit untuk menyusuri perjalanan yang agak jauh sambil menunggu Museum buka. Terbesit ide untuk blusukan ke daerah yang deket Museum yaitu Goa Payaman. Goa Payaman ini terletak di daerah selatan Jalan Wates tepatnya di Desa Argorejo Sedayu Bantul.

Konon katanya menurut cerita dari sesepuh Goa ini pernah sebagai tempat persembunyian dan tempat tinggal sampai wafatnya Prabu Kerta Bumi atau Browijoyo V dengan putranya yang bernama Raden Panekti beserta cantriknya. Hal ini dikuatkan dengan adanya makam disekitar goa tersebut yakni yang berada didekat goa payaman wadon. Dan makam tersebut diyakini sebagai makam dari Browijoyo V dan putranya serta 3 orang pengawalnya. Goa ini pada masa perang Diponegoro, pernah sebagai tempat persembunyian Pangeran Diponegoro saat kediamannya di Tegalrejo diserang oleh para tentara Belanda. Goa Lanang merupakan tempat pertapaan bagi Browijoyo V dan juga Raden Bekel Prawiro Purbo sedangkan goa payaman Wadon sebagai tempat beristirahat Browijoyo V dan putranya serta para pengawalnya.

Ehhh malah ngelantur cerita sejarah ini. Gapapa buat tambah ilmu ya siapa tahu keluar soal sejarah buat ujian. Selama perjalanan kami melewati pemandangan pedesaan yang harmonis, sawah serta perkebunan dengan suasana yang asri sejuk segar tanpa polusi ya karena masih pagi sehhh,  nggak beda jauh dengan desa kami yang damai. hehhee

Sesampainya di daerah Sedayu setelah menyeberang Jalan Wates kami belom menemukan yang namanya goa Payaman bro n sista. Dicari deh plang plang ada namanya barang kali. Tetep nggak ketemu juga, ehhhh tanya dehh sama robongna yang lagi jigong, eh yang lagi Joging. Dan akhirnya kami menemukan jalan masuk ke Goa setelah selama sekitar 45 menit bersepeda santai. ternyata lokasinya seperti Hutan.Tapi pikiran kami berubah setelah ada beberapa anak Pramuka yang sedang mengadakan Kemah di daerah itu. Ternyata lokasinya satu kawasan dengan Bumi Perkemahan dan Outbond. Asik. 

Jalan menyusuri Goa pun lumayan menanjak. Ya karena kita belom tahu medannya terpaksa deh sesekali kami tuntun kuda kami, ehhh sepeda kami. Jalannya pun sedang diperbaiki, Asyik juga bisa off road.
Biaya masuk?Gratisss. Hanya ijin sama Juru kunci. Pengunjungnya pun belom ada, ya karena masih pagi. Alhasil kami membawa sepeda kami sampai Goa, padahal kayaknya sih nggak boleh. hehehhe. Sampai Goa sekitar pukul 6.30, masih pagi sekali. Dilanjutkan deh dengan jalan jalan membawa sepeda kami disekitar goa. Katanya ada gerojogan juga, tapi nggak ketemu. Yang kami temukan hanya Jembatan Talang air jaman dulu yang hanya bisa dilewati satu kendaraan. Asikk juga buat narsis bro

Puas menyisir Goa kami memutuskan untuk pulang. Eitss pulangnya mampir Museum Soeharto lhooo. Jalurnya searah dan itu rencana awal kami. Dalam perjalanan menuju Museum kami melewati jalan yang sama. Masih sejuk dan damai hanya ada sedikit kendaraan yang lewat, namun agak panas juga karena udah menjelang siang. 

Setelah sekitar 25 menit kami sampai juga di Museum Pak Harto. Udah disapa Piye Kabare Le?Penak Jamanku To?? Upss bukan itu masbro. Udah disapa penjaganya Pak Satpam yang ramah. Biaya masuk pun lagi lagi Gratisss...cuma ngisi buku tamu aja. Yang bayar cuma parkir, tapi karena bersepeda  gratiss jadinya.hhehe

Areanya cukup terlihat luas dari luar. Dipagari dengan tembok keliling cukup tinggi, akan ditemukan nuansa bangunan apik, sederhana, adem nan terkesan luas dan lengkap.
Memasuki gerbang kita langsung disambut dengan patung Pak Harto berdiri tegak menjulang tinggi. Di patung bagian bawah, ada prasasti dan keterangan soal lahir, wafat dan makam Pak Harto. Tak jauh di sampingnya ada prasasti peresmian yang ditandatangani 8 Juni 2013 oleh Mbak Tutut dan Probosutedjo.

Di sisi kiri patung ada mushola cantik, tepat di belakang patung ada sebuah pendopo utama lebar dan besar. Bersebelahan dengan pendopo, terdapat bangunan ruang Memorial Jenderal Besar HM Soeharto. Menyambung antara bangunan ruang memorial dengan mushola, ada sebuah tembok besar bertuliskan Memorial Jenderal Besar HM Soeharto, kemudian tulisan aksara jawa + artinya berbunyi : Sa-Sa-Sa dan sebuah hiasan relief Pak Harto yang terlihat seperti sedang dalam posisi berdiri sholat.

Memasuki museum ada beberapa ruangan memorial Pak Harto. Setiap ruangan ada benda benda ataupun foto foto yang dipajang. Uniknya setiap ruangan ini dibuat sangat menarik seperti untuk bahan edukasi atau pendidikan anak. Tersepona dengan museum yang dilengkapi dengan media canggih. Ada sebuah kaca tegak, yang kemudian nanti secara bergantian memunculkan gambar seperti hologram. Ada juga diorama dalam kotak kaca. Ada juga siluet sileut keren gambar tokoh disini. Keren.

Di tembok sisi kiri ada banyak foto kegiatan Pak Harto yang di kemas bukan dari frame biasa, tapi dari akrilik yang kemudian dikemas tinggi-pendek menjadi susunan karya seni.
Saat di museum juga ada pemutaran film dokumenter Pak Harto yang sedang disaksikan oleh anak-anak karena waktu itu juga sedang ada rombongan anak anak paud/TK yang sedang berkunjung.

Puas menikmati Museum kami memutuskan untuk pulang. Selama perjalanan kami hanya berbekal minum. Untuk itu kami putuskan untuk membeli pengganjal perut camilan Onde-onde di Pasar Bibis.
Sekian kisah perjalanan gowes kami. Semoga bisa menjadi referensi yang mau berkunjung. Maturnuwunn